Menembus Ekspor Produk Turunan Sabut Kelapa

Rumah Sabut Yogyakarta dalam awal didirikannya berniat menembus batas pasar  ekspor penjualan produk-produk sabut kelapa ke luar negeri, seperti dalam tulisan disini.

Berbagai upaya dilakukan, antara lain memasang iklan/artikel disitus-situs penjualan international, juga tentunya memanfaatkan blog tercinta ini. Berbagai permintaan penawaran mengalir, ada yang datang langsung dari negeri seberang langsung, bisa by email, atau juga ketemu langsung, atau ada juga ekspatriat yang memang sengaja tinggal di Indonesia yang mencari barang-barang khusus dari Indonesia, atau bahkan juga ada ekportir lokal. Semuanya kami layani dengan maksimal. Selama ini tujuan ekpor antara lain untuk Jepang, Korea, China, dan Italia.

Dari beberapa praktek penawaran kepada para calon ekportir, sampai tulisan ini dibuat, kami belum berhasil membuat deal satu pun untuk tujuan ekpor produk-produk turunan sabut kelapa. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Salah satu faktor terbesar adalah masalah Harga Jual. Sebenarnya jika permintaan ekspor bahan baku sabut kelapa/cocofiber dilayani mungkin sudah terjadi ekspor, namun sampai sekarang ini, komitmen kami untuk tidak mengekspor bahan baku sabut kelapa masih tetap kami pegang.

Hampir semua produk sabut kelapa seperti cocomatras, cocopot, cocomesh, coir rope, dll, ada saja permintaan ekspor. Namun dibalik banyak permintaan ekspor tersebut, saya ada beberapa pengalaman yang ingin kami bagikan kepada para pembaca blog ini, barangkali ada urun rembugnya.

Harga Jual yang tidak bersaing sampai saat ini, selalu kalah saing dengan penawaran harga dari Vietnam, Philipina, Bangladesh juga India.

Hal yang menjadi keheranan saya adalah, apa yang menyebabkan harga dari kita (produk Indonesia) belum kompetitif dari segi harga, dan yang menjadi pertanyaan saya :

  1. Apakah benar, harga bahan baku kita kemahalan?
  2. Apakah benar, ongkos tenaga kerja kita tinggi?
  3. Apakah benar, harga bahan pendukung kita mahal?
  4. Apakah kebijakan biaya administrasi ekspor kita terlalu rumit, sehingga biaya membengkak?
  5. Apakah hanya permainan buyer saja, yang akal-akalan untuk menjatuhkan harga?
  6. Atau ada hal lain yang bisa menyebabkan produk turunan sabut indonesia belum bisa bersaing..?

Tulisan bersambung….. yang akan menjawab tentan pertanyaan-pertanyaan tadi.

By

Mansur Mashuri

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 101 pengikut lainnya.