Membangun Desa Mandiri Energi


Sering terdengar akhir-akhir ini suatu istilah Desa Mandiri Energi atau sering disingkat dengan DME. Lalu apa makna dari DME itu..? Makna dari dari DME adalah suatu kawasan pedesaan yang yang memiliki sumber daya baik baik bahan baku maupun manusia kemudian mampu mengelolanya menjadi sebuah solusi pemenuhan energinya sendiri. Program DME ini banyak direncanakan dan dikelola oleh pemerintah melalui departemen/dinas terkait yang disesuaikan dengan arah pengembangan energi nasional khususnya pengembangan energi alternatif. Pembentukan kawasan-kawasan yang mampu memenuhi energinya sendiri menjadi penting, ketika dimasukkan isyu dan realitas yang ada akhir-akhir ini, yaitu krisis energi dimana-mana.

Sumber cadangan minyak yang semakin menipis, mendorong seluruh elemen untuk mencari solusi. Di Indonesia diperkirakan cadangan minyak hanya cukup untuk jangka waktu 10-20 tahun, jika tidak ditemukan cadangan minyak baru. Efek dari menipisnya cadangan minyak, mendorong pemerintah untuk mengetatkan kebijakan pemakaian bahan bakar. terjadi perubahan kebijakan seperti konversi minyak tanah menjadi Gas. Biaya produksi minyak tanah jauh lebih mahal daripada harga jualnya. Sehingga katanya subsidi untuk minyak tanah ini adalah yang paling besar. Padahal minyak tanah sudah terlanjur populer digunakan oleh masyarakat. Khususnya masyarakat yang menggunakan kompor minyak tanah. Mereka umumnya ada di level masyarakat menengah ke bawah.

Konversi minyak tanah ke gas sudah diberlakukan untuk daerah Jawa. Daerah lain segera akan menyusul. Namun implementasi di lapangan, kita masih melihat buruknya pelayanan dan penyediaan tabung gas. Dimana-mana terjadi kekosongan gas, dan terjadi antrean yang sangat panjang di tempat yang tersedia penjualan gas. Kemudian juga masih sering terdengar, bahwa tabung gas banyak yang meledak. Tentunya kabar ini sangat memprihatinkan bukan..?

Nah terlepas dari itu, nampaknya kita tidak harus terlalu tergantung dengan program pemerintah, jika kita dan alam mampu menyediakan energinya sendiri.

Lalu syarat apa yang harus dimiliki untuk membuat energi secara mandiri, kemudian apa yang harus dilakukan.

Syarat yang harus dimiliki oleh suatu tempat untuk dapat menjadi kawasan desa mandiri energi adalah sumber bahan baku dan Sumber daya Manusia. Sumber bahan baku sangat penting untuk diketuahui. Hal ini akan menentukan langkah selanjutnya, terkait teknik yang akan dilakukan. Sumber bahan baku energi dapat diperoleh dari air, angin, tumbuhan, hewan, dan lain-lain. Ketersediaan bahan baku itu harus cukup memadai untuk menopang kebutuhan konversi energi.
Saya ingin mengambil contoh sebuah kawasan yang itu dapat termasuk dalam katagori dapat dikembangkan menjadi Desa / Kawasan Mandiri Energi. Kawasan yang saya ambil adalah Bekonag. Dari hasil jaulah yang lalu, terpikir ide untuk memaksimalkan fungsi kawasan bekonang untuk dapat dijadikan kawasan mandiri energi.
Dari data yang diperoleh menyatakan bahwa
1.    kawasan industri alkohol Bekonang telah eksis sejak jaman belanda
2.    terdapat 135 pengrajin / industri alkohol baik kecil maupun menengah dengan kapasitas rata-rata per hari 300 – 500 liter alkohol konsentrasi 35%
3.    terdapat KUD yang mampu menggerakkan potensi ekonomi tersebut dengan baik.
4.    Pemasaran produk sudah tidak menjadi halangan

Kelebihan-kelebihan dari bahan baku energi dan manusia yang ada disana, ternyata belum dikelola dengan maksimal untuk mendukung program mandiri eneergi. Terbukti bahwa pemasaran yang ada baru sebatas ke perusahaan rokok, tekstil, parfum, kimia, farmasi, pengolahan ikan, rumah sakit dan apotik. Alternatif penggunaan sumber bahan baku yang sangat besar itu belum didiversifikasi ke arah pengembangan energi alternatif. Padahal kebutuhan dasar manusia adalah tersedia dan cukupnya energi. Kebutuhan itu sangat besar. Terbukti dengan terganggunya distribusi gas akhir-akhir ini, menimbulkan gejolak sosial yang cukup serius.

Dengan ide sederhana tersebut, maka sangat layak jika kawasan industri alkohol bekonang dapat didiversifikasi pengembangan produk menjadi kawasan penghasil energi alternatif. Kenapa demikian, apa yang menjadi alasan bisa menjadi kawasan energi alternatif, atau menjadi kawasan mandiri energi.

Bioetanol yang banyak dikembangkan dari berbagai sumber bahan baku, seperti singkong, umbi-umbian, serat, molase, atau nira, adalah bahan penghasil etanol. Bahan-bahan tersebut memiliki potensi masing-masing.

Sementara industri bekonang sendiri menggunakan molase sebagai bahan bakunya. Hasil yang ada, menunjukan masyarakat sangat puas dengan bahan baku molase, selain bahan baku mudah diperoleh, mudah membuatnya, hasil etanolnya pun cukup besar, dari satu kg molase menghasilkan etanol sebesar 30-35%.

Penggunaan Bioetanol untuk kompor yang mampu menggantikan peran minyak tanah, telah banyak dilakukan percobaan dan pengujian. Hasilnya cukup lumayan. Silahkan baca artikel menengok industri alkohol bekonang, atau percobaan kompor bioetanol.

Kemudian arah untuk mengembangkan etanol bekonang yang berkadar 90% sangat terbuka dengan telah ditemukannya teknologi membran yang mampu mendongkrak etanol 90% menjadi 100%.

*analisis bisnis sekilas
By mansur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s