Minyak Kelapa Sebagai Obat…?

Selama ini, pendapat masyarakat telah dibuat keliru oleh media massa. “Minyak Kelapa adalah Biang Kolesterol..?” betulkan demikian..? nampaknya pernyataan tersebut adalah claim yang tidak benar. sederhana saja, Orang tua kita dulu, mayoritas memasak menggunakan minyak kelapa, sebelum ada minyak sawit, kedelai dll. Penyakit degeneratif itu justru munculnya adalah pasca hadirnya minyak-minyak tersebut. hmm… siapa yang benar ya…? Namun menurut saya adalah benar, Orang tua dulu kita lebih Sehat dengan banyak mengkonsumsi minyak kampung ini, badannya kekar-kekar. sekarang, dengan dalih kemakmuran, masyarakat umumnya lebih suka dilihat kalau Gemuk.. 😦  sudah jadi rahasia umum, gemuk itu lebih dekat kepada penyakit.

Nah, sekarang daripada ribut menyalahkan yang tanpa ada bukti ilmiah, sedikit ada artikel bagus ttg minyak Kelapa atau yang lebih keren disebut dengan Virgin Coconut Oil (VCO).

VCO adalah singkatan dari Virgin Coconut Oil, yaitu suatu produk dari kelapa, yang berupa minyak, tetapi yang dibuat secara khas, yaitu tanpa pemanasan. Sebuah artikel yang dikeluarkan oleh SUN STAR menyatakan bahwa VCO dibuat dari buah kelapa yang sudah tua, yang dalam pembuatannya secara mekanik atau tangan, tanpa atau dengan pemanasan lemah, tanpa melalui pemurnian (refining) kimiawi, pemutihan, atau deodorisasi

Kebutuhan adanya minyak (lemak ) dalam diet.

Kebutuhan adanya lemak dalam makanan, telah jelas sekali. Penelitian dalam bidang medis, membuktikan bahwa dalam diet seseorang itu diperlukan lemak sebanyak minimum 30 % dari makanan. Ini untuk memenuhi kebutuhan metabolisme fungsi metabolic dalam seluruh badan. Tetapi, memilih lemak yang tepat untuk memenuhi kebutuhan itu, harus dipikirkan lagi. Ada berbagai macam lemak, antara lain yang disebut sebagai saturated fat, monounsaturated, poly unsaturated fats. Banyak dietetians menganjurkan yang paling sesuai adalah minyak dari kelapa.

Mengapa minyak yang dari kelapa?

Minyak kelapa sendiri, telah digunakan untuk makanan dan  keperluan lain sejak, beberapa abad yang lalu terutama oleh mereka yang hidup didaerah tropis. Kegunaannya dalam bidang kesehatan juga telah dikenal sejak zaman dahulu. Minyak kelapa sebagian besar mengandung asam lemak jenuh. Hal ini diwaktu yang lalu, dikatakan menyebabkan penyakit jantung dan multiple sclerosis. Tetapi, efek negative ini kemudian dibantah oleh para ahli, karena yang dikandung oleh minyak kelapa adalah sebagian besar asam laurat, yaitu yang termasuk asam lemak jenuh rantai sedang ( middle chain fatty acid  ). Ini merupakan asam lemak jenuh yang baik, dan tidak menimbulkan endapan pada pembuluh darah.  Minyak kelapa mengandung lebih dari 50% asam laurat disamping asam lemak jenuh rantai pendek lain. Asam lemak rantai sedang yang terdapat dalam minyak kelapa sangat mudah dicerna dan dimetabolisir, dan kemudian diabsorbsi , masuk kedalam darah, dan tidak disimpan dalam kelenjar lemak atau tertimbun dalam pembuluh darah, karena itu tidak berbahaya bagi peredaran darah atau kemudian bagi jantung.

VCO, ada yang menyebut sebagai high quality coconut oil, (meskipun mereka itu berlainan), karena VCO juga dibuat dari buah kelapa.

Penggunaan VCO

1. Pengurangan berat badan, produksi energi dan diabetes.

Energi output sangat dipengaruhi langsung oleh metabolisme. Medium Chain Triglycerides yang ditemukan dalam minyak kelapa dapat meningkatkan kecepatan kecepatan metabolisme badan. Medium chain fatty acids yang ditemukan dalam minyak kelapa sangat mudah didigesti dan merupakan sumber energi yang cepat. Karena absorpsi yang cepat tersebut, medium chain fatty acid dapat memberikan tenaga yang lebih besar ( enhancement of exercise performance ).

Medium chain fatty acids segera diabsorpsi kedalam aliran darah dan organel sel yang memproduksi energi. Mereka tidak disimpan dalam jaringan adiposaseperti halnya minyak lain yang mengandung asam lemak jenuh rantai panjang Penelitian membuktikan bahwa pada orang yang dietnya berubah dengan kemudian mengkonsumsi lemak dengan trigliserida dengan asam lemak jenuh rantai sedang, akan mengalami penurunan berat badan.

Konsumsi minyak kelapa juga sangat relefan bagi penderita diabetes. Ini karena dia dapat menaikkan sekresi insulin, dan membantu stabilisasi glukosa darah. Beberapa peneliti merekomendasikan peningkatan konsumsi minyak kelapa (VCO) dalam usaha untuk mencegah timbulnya diabetes tipe II.

  1. Fungsi immunologis

Asam laurat yang banyak terdapat dalam minyak kelapa, dalam badan dirubah antara lain menjadi monolaurin, dan ini disebut antara lain sebagai anti microbial agent.  Monolaurin yaitu suatu monogliserida, mempunyai khasiat sebagai antiviral, antibacterial dan anti protozoa.  Senyawa ini juga dianggap sebagai dapat mendegradasi virus yang mempunyai selubung lemak, termasuk herpes, cytomegalovirus, influenza, dan bacteria pathogen lain. Minyak kelapa juga dikatakan dapat menghalangi perkembangan infeksi jamur. Dikatakan juga bahwa asam laurat merupakan asam lemak jenuh yang banyak terdapat dalam air susu ibu, dan bertanggung jawab dalam pembentukan serta berfungsinya system immune.

  1. Proteksi terhadap radikal bebas.

Penggunaan VCO akan mengurangi pemasukan radikal bebas yang didapat dari makanan, karena pembuatan VCO tidak menggunakan panas, sehingga sangat sedikit atau bahkan tidak ada radikal bebas didalamnya. Efek antimikroba dari asam laurat, monolaurin dan asam kaprat serta monokaprat Sifat antimikroba dari asam laurat ( C12),dan monolaurin, adalah lebih besar dari asam kaprat ( C10)atau monokaprat, atau asam kaprilat ( C8) serta asam miristat C14).  Aktivitas anti mikrobanya disebabkan oleh aktivitasnya melisis lipida dari plasma membran bilayer ( inactivating by lysing the plasm membrane lipid bilayer. Hal ini tidak dipunyai oleh asam-asam lemak lain.Aktivitas monolaurin sebagai anti viral adalah karena mempunyai aktivitas solubilizing pada lipid dan fosfolipida yang terdapat pada selubung lipida dari virus, yang menyebabkan degradasi dari lipida selubung virus tersebut. Penelitian mengindikasikan, bahwa beberapa virus yang diinaktifkan oleh asam-asam lemak dan monogliseridanya adalah: measles (gabag, JW. ), herpes simplex, vesicular stomatitis (sakit perut ), cytomegalovirus, dan ada yang mengindikasikan virus HIV. Jadi,  nampaknya adalah baik bagi penderita infeksi virus yang tersebut diatas, untuk menggunakan minyak kelapa, atau lebih baik lagi VCO, sebagai dietary supplement mereka.

Mengeruk UNTUNG dari Asap Cair pada Bisnis Penyamakan Kulit…! (Bag I)

Industri penyemakan kulit merupakan industri yang cukup potensial sebagai penyumbang devisa Negara di Indonesia. Keberhasilan industri penyamakan kulit salah satunya sangat tergantung dari bahan baku kulit, baik kwalitas mapun kuantitas yang dihasilkan oleh ternak sapi, kerbau, domba, kambing dan ternak / hewan non konvensional lainnya seperti reptile, ikan, unggas, dll.

Kualitas kulit mentah sangat depengaruhi oleh beberapa factor antara lain yaitu cacat yang terdapat pada kulit, baik cacat biologis maupun mekanis. Cacat biologis disebabkan karena adanya cacat oleh bakteri, jamu, luka karena goresan sewaktu hewan digembala maupun diangkut. Sedang cacat meknis disebabkan adanya perlakuan terhadap kulit setelahhewan tersebut disembelih, yaitu terjadi goresan – goresan pisau dan lubang – lubang pada saat pengulitan hewan.

Tidak semuanya kulit mentah segar langsung dapat diproses oleh industri penyamakan kulit. Kulit tersebut biasanya dikumpulkan terlebih dahulu oleh para pengumpul kulit  dengan perlakuan pengawetan agar kulit tersebut tidak busuk sebelum dibawa keindustri penyamakan kulit. Factor pengawetan kulit mentah pun menjadi sangat penting karena akan mempengaruhi kualitas kulit mentah. Kulit mentah yang diawetkan dengan cara yang benar dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama tanpa mengalami perubahan yang berarti.

Tujuan pengawetan kulit mentah adalah untuk menghindari / mencegah agar kulit mentah tersebut tidak busuk karena terserang bakteri, tidak dimakan serangga serta tahan terhadap keadaan sekitarnya. Dasar dari pengawetan kulit adalah untuk mengurangi kadar air dalam kulit mentah sehingga mencapai batas minimum yang diperlukan oleh bakteri pembusuk untuk dapat hidup dan berkembang biak. Biasanya pengawetan kulit mentah dikerjakan dengan cara diracun kemudian dikeringkan, direndam dalam garam jenuh ( 20° – 24° Be ) selama kurang lebih 24 jam, dan ada pula dilakukan dengan ditaburi garam direndam dalam garam jenuh, dan dapat diawet degan cara diasamkan (pikel).

Perlakuan pengawetan kulit yang menggunakan asap cair sebagai pengganti racun berfungsi untuk mencegah adanya bakteri pembusuk, serangga dan jamur sehingga kulit tidak busuk dalam waktu yang lama. Dengan menggunakan asap cair diharapkan pengawetan ini tidak membahayakan bagi manusia dan lingkungan Karen tidak perlu menggunakann bahan kimia yang tidak ramah lingkungan.

Asap cair ynag digunakan sebagai bahan pengawt kulit diperoleh dari bahan kayu (tempurung kelapa) yang diproduksi dengan proses pirolisis pada suhu 400° C dan disertai kondensasi menggunakan air sebagai media pendingin. Proses ini akan menghasilkan asap cair yang mengandung senyawa asam, fenol dan karbonil yang merupakan senyawa fungsional dalam pengawetan bahan untuk menghambat pertumbuhan mikroba. Aktivitas anti mikrobia asap cair dari berbagai macam kayu sangat tinggi. Pengenceran asp cair sampai dengan 100 kali masih menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap semua bakteri kecuali teradap pertumbuhan Salmonella Typhimoriu. Pada pH netral pengenceran asap cair sampai dengan 10 kali masih memperlihatkan penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri.

Dari data yang ada menunjukkan bahwa asap cair dari tempurung kelapa mempunyai aktivitas anti mikrobia paling tinggai dibanding dengan kayu – kayu lainnya (Purnomo Darmaji, dkk,1997). Fenol dan asam asetat merupakan senyawa anti mikrobia dalam asap cair tempurung kelapa yang masing – masing mempunyai konsentrasi 1,28 % dan 9,60 % (tranggono, dkk, 1997). Aktivitas anti bakteri dari asap cair terutama disebabkan adanya kombinasi antara komponen fungsional fenol dan asam organik yang bekerja secara sinergis mencegah dan mengontrol pertumbuhan mikroba ( paszczola dan Astuti 2000). Adanya fenol dengan titik didih tinggi dalam asap cair juga merupakan zat anti bakteri yang tinggi ( Astuti, 2000 ). Asap cair merupakan hasil limbah dari tempurung kelapa yang mempunyai sifat – sifat antara lain sebagai bahan pengawet anti jamur, dan lain – lain merupakan bahan yang ramah lingkungan.

Beberapa Negara yang merupakan konsumen kulit dari Indonesia telah mulai mensyaratkan adanya perhatian terhadap lingkungan ( penerapan ISO 14001 ) pada industri penyamakan kulit. Guna mengatasi masalah tersebut salah satunya adalah dengan cara mencari pengganti bahan – bahan kimia yang ramah ligkungan sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan lingkungannya, yaitu antara dengan menggunakan asap cair. Karena penggunaan asap cair belum banyak diterapkan bahkan belum ada sama sekali, oleh para pengumpul kulit maupun industri penyamakan kulit untuk pengawetan kulit, maka penelitian terhadap asap cair perlu dilaksanakan sebagai pengganti bahan pengawet kimia. Keberhasilan penelitian ini diharapkan dapat membantu meringankan permasalahan yang dihadapi oleh para pengumpul kulit dan industri penyamakan kulit terutama dalam efisiensi produksi pengolahan lingkungan.

Bersambung…!