LIBUR AKHIR TAHUN DULU YA….

Sahabat….

Akhir Tahun 2011 segera akan tiba…, Saat introspeksi untuk segala HAL akan impian, Cita-cita, Proses kerja dll.

Nah…, Demi untuk Re Fresh, Mohon maaf bagi Kawan-kawan yang ingin berkunjung atau belajar tentang Dunia Kelapa Di Yogyakarta, Akhir tahun ini, kami sekeluarga berencana tidak di Yogya. Insyaallah LIBURAN.

Semoga Bisa kembali di Awal tahun 2012 dengan semangat dan IDE-IDe BARU.

 

Terima Kasih

 

 

 

 

 

Iklan

Jangan Ekspor Kelapa Indonesiaku

Indonesia surga kelapa,

Jumlahnya terbesar sluruh dunia,
Banyak negara kagum padanya,
Potensi besar mengalirkan devisa,
Tetapi apa yang terjadi,
Produk olahan kelapa kita belum banyak bersaing di luar negeri,
Pengusaha kita lebih tertarik menjual produk tak jadi,
Harusnya lebih banyak devisa tak lari.
Kita lihat fakta yang ada,
cocofiber terjual dalam bentuk mentahan saja,
Begitu juga Kopra,
Lebih Ironis dari fakta yang ada,
Kelapa mentah banyak lari ke negeri China,
Kelapa mereka jual utuh,
Seolah tak ada pilihan proses yang bisa dikayuh,
Sayang mereka tidak bisa melihat lebih jauh,
Produsen olahan kelapa sekarang banyak mengeluh,
Harga kelapa mentah melompat jauh,
Khawatir Industri Kelapa Indonesia bisa Jatuh.
Penduduk bangsaku Indonesia,
Bersabar dan bekerja itulah pilihan yang ada,
Tidaklah kita tergesa-gesa meraup devisa,
Agar semesta mendukung kita.
Untuk pemerintah jangan kau Lari,
Jangan kau biarkan izin kelapa mentah lari ke luar negeri,
Khawatir industri kelapa kami mati lebih dini.
Kita optimis pasti bisa bersaing,
Banyak anak bangsa berotak emas gading,
Hanya tinggal total dukunganmu kami “Tanting”


Puisi by : Mansur Mashuri

Menembus Ekspor Produk Turunan Sabut Kelapa

Rumah Sabut Yogyakarta dalam awal didirikannya berniat menembus batas pasar  ekspor penjualan produk-produk sabut kelapa ke luar negeri, seperti dalam tulisan disini.

Berbagai upaya dilakukan, antara lain memasang iklan/artikel disitus-situs penjualan international, juga tentunya memanfaatkan blog tercinta ini. Berbagai permintaan penawaran mengalir, ada yang datang langsung dari negeri seberang langsung, bisa by email, atau juga ketemu langsung, atau ada juga ekspatriat yang memang sengaja tinggal di Indonesia yang mencari barang-barang khusus dari Indonesia, atau bahkan juga ada ekportir lokal. Semuanya kami layani dengan maksimal. Selama ini tujuan ekpor antara lain untuk Jepang, Korea, China, dan Italia.

Dari beberapa praktek penawaran kepada para calon ekportir, sampai tulisan ini dibuat, kami belum berhasil membuat deal satu pun untuk tujuan ekpor produk-produk turunan sabut kelapa. Ada beberapa hal yang menjadi penyebabnya. Salah satu faktor terbesar adalah masalah Harga Jual. Sebenarnya jika permintaan ekspor bahan baku sabut kelapa/cocofiber dilayani mungkin sudah terjadi ekspor, namun sampai sekarang ini, komitmen kami untuk tidak mengekspor bahan baku sabut kelapa masih tetap kami pegang.

Hampir semua produk sabut kelapa seperti cocomatras, cocopot, cocomesh, coir rope, dll, ada saja permintaan ekspor. Namun dibalik banyak permintaan ekspor tersebut, saya ada beberapa pengalaman yang ingin kami bagikan kepada para pembaca blog ini, barangkali ada urun rembugnya.

Harga Jual yang tidak bersaing sampai saat ini, selalu kalah saing dengan penawaran harga dari Vietnam, Philipina, Bangladesh juga India.

Hal yang menjadi keheranan saya adalah, apa yang menyebabkan harga dari kita (produk Indonesia) belum kompetitif dari segi harga, dan yang menjadi pertanyaan saya :

  1. Apakah benar, harga bahan baku kita kemahalan?
  2. Apakah benar, ongkos tenaga kerja kita tinggi?
  3. Apakah benar, harga bahan pendukung kita mahal?
  4. Apakah kebijakan biaya administrasi ekspor kita terlalu rumit, sehingga biaya membengkak?
  5. Apakah hanya permainan buyer saja, yang akal-akalan untuk menjatuhkan harga?
  6. Atau ada hal lain yang bisa menyebabkan produk turunan sabut indonesia belum bisa bersaing..?

Tulisan bersambung….. yang akan menjawab tentan pertanyaan-pertanyaan tadi.

By

Mansur Mashuri

 

Jogjaku Aman, Nyaman Pasca Letusan Merapi

Saudaraku sekalian yang berkesempatan membaca blog ini, blog yang mengupas ttg kelapa, dari ujung barat sampai timur Indonesia, mungkin anda sekalian sering melihat tayangan televisi, tentang bagaimana begitu “Horor” nya keadaan di Jogja pasca letusan merapi, mencekam, menakutkan dan menyedihkan.

Sungguh kesan itu sebenarnya tidak ada dalam sebagian besar warga jogja, kami tetap survive, jogja tetap aman, nyaman pasca letusan merapi.

Memang bencana letusan merapi tersebut, sedikit banyak meluluhlantakan sebagian besar lereng merapi, hujan abu disekitar merapi, banjir lahar dingin, tetapi kami warga jogja masih memiliki sikap survive untuk terus bangkit dari musibah.

Tayangan TV yang tidak berimbang tentang keadaan jogja, membuat opini publik yang negatif terhadap jogja. Orang-orang berpikir panjang untuk ke Jogja. Padahal jogja adalah kota pariwisata, kota pendidikan, kota budaya, kota jasa intelektual tumbuh subur disini, banyak orang bermimpi dan ingin ke jogja, bahkan yang sudah ke Jogja, pasti ingin kembali ke kota yang penuh cita rasa eksotis ini.

Saudaraku sekalian, sekarang Jogjaku kembali berbenah, kembali ke kehidupannya kembali, tidak ada yang berubah dari yogya, jogjaku tetap aman, dan nyaman untuk dikunjungi.

Untuk saudaraku yang ingin mengenal banyak tentang kelapa, Jogja adalah pusat pengembangan kelapa di Indonesia, banyak aneka ragam produk kelapa tumbuh dan berkembang dari kota ini. Sekarang, jangan khawatir saudaraku, merapi tetap aman, indah, bahkan seperti Juru Kunci merapi “Mbah Surono, kepala PVMBG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gunung Merapi itu seperti wanita,  Tatkala dia sedang marah, Jangan didekati, kita akan kena batunya, tetapi ketika sedang tenang, dekatilah, bahkan pujilah dia, Pasti dia akan senang, anggun, dan sedap dipandang mata, nah begitu juga Merapi, saat sedang batuk dan mengeluarkan material vulkaniknya, jangan di dekati, nanti kita kena amukannya, tetapi kalau sedang anteng, Wow Merapi Indah sekali, dari jarak 1 km pun, mmmmm subhanallah sungguh indah ciptaan allah.

Ok saudaraku, back to Jogja, Jogjaku tetap aman, nyaman untuk dikunjungi pasca letusan merapi.

Salam

Janji Pemerintah untuk meningkatkan produktifitas kelapa diTagih..

Ini nih, janji pemerintah ttg pemberdayaan dan peningkatan produktifitas kelapa yang harus direalisasikan. Janjimu kutagih…!

Sebagaimana diambil dari kutipan artikel di detik.com

Kalah dari Tetangga, Pemerintah Galakkan Industri Olahan Kelapa

Jakarta – Kementerian Perindustrian menyiapkan pengembangan industri (reindustrialisasi) olahan kelapa yang selama ini belum terlalu banyak diperhatikan. Pasalnya, potensi ekspor produk kelapa sangat besar.

“Kita harus hidupkan secara nasional industri kelapa,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun dalam acara konferensi pers di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (8/5/2010).

Alex menjelaskan, Perpres No 28 tahun 2008 mengenai kebijakan industri nasional mengamanatkan pengembangan 6 kluster industri prioritas termasuk didalamnya pengembangan industri agro diantaranya industri olahan kelapa.

Ia menjelaskan, reindustrialisasi (2010-2014) industri olahan kelapa akan diprioritaskan pada peningkatan jaminan pasokan bahan baku, diversifikasi produk olahan kelapa, peningkatan mutu produk, peningkatan investasi.

Bahkan dalam jangka panjang pemerintah akan memprioritaskan industri kelapa menjadi produk non pangan dan pembangunan pengembangan industri pengolahan kelapa. “Kalau bicara ACFTA, kelapa menjadi salah satu yang harus digenjot. Ini yang harus dimanfaatkan karena peluang besar ke China,” katanya.

Namun Alex mengakui, saat ini kondisi tanaman kelapa di Indonesia terus merosot karena hama dan belum tersedianya kebun induk sebagai sumber penyediaan bibit. Diversifikasi pemanfaatan produk masih berbasis kopra, sabut, tempurung dan air belum banyak dimanfaatkan dan lain-lain.

Selama ini, komoditas kelapa dapat diproduksi untuk berbagai produk seperti daging kelapa bisa diolah menajdi virgin coconut oil, cooking oil, milk, desicatted, bungkil, soap base. Sementara, air kelapa dapat diolah menjadi natural isotonik, dan Nata de Coco.

Tempurung kelapa bisa dibuat arang, coco briquette, activated carbon. Serat Sabut bisa diolah menjadi matras, filter, coir geo-textile dan serbuk sabut bisa diolah menjadi insulator, tick block dan lain-lain.

“Ada 200-an end product dari kelapa, ini strategis bagi industri nilai tambah. Kalau rumput laut sampai 500 end product,” katanya.

Produksi Olahan Kelapa Indonesia Masih Kalah dari Filipina dan India

Alex menyatakan, saat ini ekspor produk olahan kelapa Indonesia hanya mencapai US$ 427 juta per tahun, sedangkan negara jiran Filipina yang menjadi pesaing Indonesia mampu membukukan ekspor hingga US$ 841 juta per tahun.

“Dia lebih hemat memanfaatkan potensinya, kalau kita kelapa masih menjadi komoditas yang tertinggalkan,” katanya.

Padahal, kata Alex, dari sisi luasan lahan kelapa di Filipina hanya mencapai 3,1 juta hektar dengan produksi 12 miliar butir kelapa per tahun. Bahkan dibandingkan dengan India yang hanya memiliki 1,1 juta hektar lahan kelapa mampu menempatkan negara hindustan tersebut menjadi pengekpor industri kelapa terbesar di dunia. Negara-negara Thailand dan Srilanka juga menjadi pesaing bagi Indonesia.

Sedangkan Indonesia yang justru memiliki luasan lahan kelapa mencapai 3,8 juta hektar dengan produksi 16 miliar butir kelapa masih jauh tertinggal dengan dua negara tersebut dalam hal industri pengolahan kelapa.

Luasan lahan kelapa di Indonesia hampir 98% merupakan petani rakyat. Sebaran lahan kelapa di Indonesia antaralain 33,63% berada Sumatera, Jawa 22,75%, Sulawesi 19,4%, Nusa Tenggara 7,7%, Kalimantan 7,62% dan Maluku dan Papua 8,89%. (hen/ang)