Membumikan Minyak Goreng Kelapa di Bumi Nyiur Melambai

Terdengar sangat miris mendengar Perkataan Bapak Abdul Azis, salah seorang Camat dari Kabupaten Halmahera Utara, mereka bilang, bahwa kecamatan mereka penghasil kopra 10.000 ton /bulan, mereka menjual kopranya dengan harga Rp 2000 – 3000 /kg, tetapi mereka yang berpenduduk sekitar 22ribu jiwa atau 7.000 KK itu, justru mengkonsumsi minyak goreng berasal dari Minyak Sawit. Pertanyaan BESAR untuk saya. Kenapa bisa terjadi seperti itu..? Kenapa mereka tidak mengolah kopra menjadi minyak goreng kelapa? Malah menjual Kopra dengan harga yang murah.  Apa tidak ada informasi yang datang, bahwa minyak kelapa lebih bagus dari minyak sawit? saya pernah mengupas artikel perbandingan tentang kopra atau memproduksinya menjadi minyak goreng kelapa, silahkan klik disini. ini Anehnya lagi, menurut camat yang masih sangat muda itu, justru di Kecamatan Galela, katanya ada Pabrik Pengolahan Kopra menjadi Minyak Goreng Kelapa, tetapi justru menjualnya ke luar daerah, sementara ada pihak yang mendatangkan minyak sawit untuk dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat disana.

Saya berpikir, saya kira kasus ini bukan hanya terjadi di daerah Halmahera Utara, tetapi bisa saja terjadi didaerah – daerah penghasil lainnya di Indonesia, Oooo.. saya teringat juga,  Ketika ada seorang rekan dari Riau pernah berbincang tentang minyak kelapa, dia katanya, pernah membeli dan mengkonsumsi minyak goreng kelapa, yang diberi tulisan “MINYAK SEHAT”, harganya per liter Rp 35.000. Saya Tanya “dari itu minyak berasal”, dia jawab, “ dari Singapura”, “hmmm… , dalam pikiran saya, Singapura mana mungkin memiliki pohon kelapa kemudian dibuat minyak goreng kelapa, Negara kecil itu tidak memiliki sumber daya alam kelapa. Wilayah yang paling dekat dengan mereka adalah Sumatera, Riau lah yang paling memungkinkan untuk menjual kopra ke Singapura, kemudian menjual minyaknya kembali ke Indonesia (Riau). Pintarnya Singapura, Lugunya KITA. 😦

Dari rangkaian cerita ini, saya memiliki beberapa jawaban dari pertanyaan saya, bahwa sebagian besar dari kita (Indonesia) lebih senang menjual bahan mentah ke luar negeri, tanpa mau mengolahnya sendiri, kemudian dengan bangga menggunakan produk dari luar, yang katanya “Lebih berkualitas”, kemudian jawaban lain, terlihat bahwa, kita sangat lemah dalam penguasaan teknologi proses, atau penyebaran teknologi proses yang tidak berjalan mulus. Efek dari hal ini sangat dominan, dan menguasai masyarakat banyak. Artinya jika teknologi tidak segera terpecahkan, masyarakat kita akan menjadi budak dari produk-produk bangsa lain.

Kemudian, ada analisa lain dari kasus diatas, sepertinya ada kesengajaan terkait unsure bisnis, dimana masyarakat yang memiliki SDA alam (kelapa), mereka dibiarkan untuk tidak mengetahui untuk apa bahan baku yang ada tersebut, tetapi masyarakat disediakan produk lain (yaitu minyak sawit, bukan minyak goreng kelapa), hal ini mengisyaratkan bahwa pengusaha yang mengolah minyak goreng dari kopra, tidak ingin masyarakat mengolah kopra menjadi minyak goreng kelapa, dan dengan sengaja pengusaha berupaya supaya tidak ada raja-raja kecil yang akan menggangu kerajaan bisnisnya.

Menurut hemat saya, mulai sekarang, sudah bukan saatnya lagi, produk kelapa, khususnya minyak goreng kelapa, menjadi  barang asing di tempatnya berasal. Karena jika jawaban kekurangan informasi, saya yakin dengan internet, informasi tentang apapun sekarang mudah didapat, apalagi insyaallah dengan kehadiran blog ini, bisa menjembatani tentang minimnya informasi pengolahan minyak goreng, kemudian jika tentang teknologi proses pengolahan kelapa menjadi minyak goreng belum dikuasai, maka kami sudah memulainya di Yogyakarta, kami membuat minyak goreng kelapa dengan kualitas prima dan kami siap memberikan adopsi prosesnya bagi yang berminat.

Kami berkeyakinan, jika seluruh kalangan peduli, mulai dari petani, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pengusaha dan para intelektual bisa berkolaborasi, persoalan diatas tidak akan terjadi. Bahkan usaha untuk membumikan minyak goreng kelapa, di bumi Nyiur melambai akan mudah terelasir. Dan yang paling penting, produk kelapa khususnya minyak goreng, akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Sebuah Impian yang Indah 🙂

By. Mansur Mashuri, ST (Tukang Kelapa)

Memilih Kopra VS Minyak Goreng Kelapa Premium…?

Di beberapa sentra kelapa, para petani seolah tidak memiliki pilihan lain mengolah daging kelapa hanya menjadi kopra. Kopra adalah daging kelapa kering yang memiliki kadar air sekitar 15-20%. Kopra biasanya akan diproses menjadi minyak goreng kelapa. Proses kopra bisa dilakukan dengan pengeringan dibawah sinar matahari atau pengasapan. Para petani segerea menjual kopra kepada para pengepul dengan harapan segera mendapatkan uang untuk menutupi kehidupan sehari-harinya.

Namun ternyata siklus kopra dengan para petani tersebut tidak segera menambah/merubah siklus kehidupan para petani kelapa. Mereka tetap miskin. Bagaimana tidak, kopra hanya dijual dengan harga Rp -+ 2500/kg. Padahal 1 kg kopra diperoleh dari 5-6 butir kelapa setara dengan harga Rp 2.000-2.500. Jadi mereka hanya mendapat margin dari kopra per kg sekitar -+ Rp 100-200/kg.

Bisa dibayangkan, dengan irama kerja membuka kelapa, mencungkil, mengeringkan, atau mengasapkan dengan beberapa hari, mereka mendapatkan margin per kg hanya +- Rp 200…?

Adakah proses lain yang lebih menguntungkan. Saya kira, jika para petani diberikan sentuhan teknologi sedikit bagaimana mengolah kelapa tidak hanya menjadi kopra, tetapi dari daging kelapa dapat diolah menjadi minyak kelapa mentah CCO (Crude Coconut Oil) atau VCO (virgin coconut oil), yang harganya pasti lebih bagus, bisa dijual dengan harga bisa Rp 9-10ribu. Asumsi 1 liter kelapa diperoleh dari 10 kelapa. Harga 1 butir kelapa Rp 500. (catatan dibeberapa daerah harga kelapa banyak dijual dengan harga 250-350 rupiah) menguntungkan bukan…?

Akan jauh menguntungkan lagi, jika CCO/VCO kemudian di0lah menjadi minyak goreng kelapa premium. minyak goreng setara barco yang sudah ada dipasaran.  Apa bisa…? Jawabannya pasti bisa. Hanya dengan memberikan sedikit sentuhan netralisasi pada minyak kelapa kemudian disaring, hasil yang akan diperoleh adalah minyak goreng kelapa sesuai standar Nasional Indonesia. Kebetulan saya pernah melakukannya dengan membuat minyak goreng kelapa sesuai standar SNI dan HACCP :). Proses tersebut masih dilakukan di Kawasan Industri Minyak Kelapa Kulonprogo Yogyakarta.

Tidak sulit untuk memulai, asal ada kemauan. Peran pemerintah daerah sangat diharapkan untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan produk kelapa menjadi unggulan di daerahnya sendiri. Kelemahan minyak goreng kelapa yang diolah saat ini adalah tidak tahan lama, hanya mampu bertahan sekitar 1-2 mingguan. Lewat dari masa itu sudah tengik, Maka sering terdengar istilah minyak Goreng Kampung. Penamaan yang tidak menjual. Masyarakat kelas tertentu pun ogah menggunakan minyak goreng kelapa tersebut. Karena memang kesan yang dibuat adalah Kampung, Jelek, tidak bermutu (ini adalah pembunuhan karakter yang terkesan halus).

Nah, kelompok-kelompok tani yang mengolah daging kelapa menjadi kopra, sudah saatnya diarahkan mengolah daging kelapa menjadi minyak goreng kelapa premium yang harganya bisa bersaing dengan minyak goreng sawit. Hingga harapannya tumbuh sentra ekonomi rakyat yang lebih bergairah.

By : Manshur Mashuri