Dari Jogja Untuk Indonesia (Mengolah Minyak Goreng Kelapa Premium)

Djogja terkenal sebagai gudangnya pemikir, termasuk pemikir yang berusaha memecahkan persoalan bangsa khususnya di bidang kelapa. Telah lahir dari kota ini, pendekar pemikir kelapa seperti untuk produk VCO, asap cair. Hingga kini, produk-produk tersebut dapat terapresiasi secara nasioanl untuk dapat dikembangkan.

Proses kreatif tidak berhenti di VCO dan asap cair, Kawasan industri minyak kelapa Kulonprogo Yogyakarta telah mengembangkan sistem pembuatan minyak goreng kelapa premium yang mudah dan murah. Namun hasil minyak sudah standar SNI.

Di lokasi ini, terdapat micro lab juga pengolahan minyak goreng kelapa yang dapat diadopsi bagi para pengusaha atau para pemerintah daerah yang memiliki kebijakan pengembangan kelapa khususnya mengembangkan minyak goreng kelapa premium.

Kelompok Swadaya Masyarakat ini, sudah mampu menghidupi dirinya sendiri dengan mengolah produk olahan kelapa menjadi produk yang dapat diunggulkan. antara lain, VCO, Asap cair juga minyak goreng kelapa.

Kami bersama Kelompok Swadaya Masyarakat di kawasan industri minyak kelapa siap memberikan pendampingan berupa pelatihan dan konsultasi pengembangan produk kelapa menjadi minyak goreng kelapa premium bagi Dinas-dinas terkait/pemda ataupun para calon pengusaha.

Info Pelatihan dapat menghubungi : Mansur Mashuri, ST Contact Person (081328042283)

Kami akan antar anda ke gerbang pemberdayaan masyarakat untuk kesejahteraan bersama“.

Iklan

Signifikasi Peran Pemda Mendorong Industri Minyak Goreng Kelapa Rakyat

Dalam tulisan sebelumnya telah dibahas tentang pilihan antara kopra atau minyak goreng kelapa yang harus dikembangkan dalam industri kelapa rakyat, dan minyak goreng kelapalah yang layak dikembangkan, dan ternyata peran Pemda dinilai sangat strategis untuk mendorong kemajuan pengembangan industri tersebut.

Selama ini, penulis menilai pengembangan industri kelapa rakyat belum dibuat berdasarkan kebutuhan pasar. Belum ada skala prioritas. Sebagai contoh kasus seperti VCO. Pada masa jayanya, VCO sempat menjadi perbincangan di berbagai daerah, bahkan pusat. Sehingga sekonyong-konyong semua daerah harus mengembangkan VCO. APBD pun mengalir deras untuk pengembangan VCO tersebut. Tetapi sudah bukan rahasia umum, proyek pengembangan VCO mandeg di tengah jalan. “Bunga sudah layu sebelum berkembang”. Para petani sudah malas mengembangkan sebelum mereka mendapatkan hasil/untung  yang dicita-citakan.

Peluang ekspor yang digembor-gemborkan ternyata tidak kunjung diraih oleh para pengrajin minyak. Entah kenapa produk kita selalu kalah oleh negara-negara seperti Philipina, India atau Vietnam. Tetapi sudahlah, dari pada kita meratapi kegagalan, lebih baik kita berusaha mengembangkan produk lokal yang memiliki kualitas sehingga kita tidak usahlah membeli apa-apa dari negeri luar.

Ada kisah sangat ironis dari kawan yang berasal dari Riau, menurutnya ” dia konsumsi minyak goreng kelapa yang katanya di beli dari Singapura” Bangga gitu lho produk singapur. Harganya pun lumayan mahal. 1 liter Rp 35.000.  Padahal Singapura tidak memiliki pohon kelapa. Pohon kelapa dan minyak kelapa yang ada di sekitar singapura ya dari Provinsi Riau itu sendiri. Aneh kan..?

Nah, lebih baik kita sekarang harus fokus mengembangkan minyak goreng kelapa untuk dapat lebih dikonsumsi masyarakat yang berasal dari sumber daya alam kita. Jangan sampai saat masanya perdagangan bebas ACFTA sekarang ini, minyak goreng kelapa pun harus di impor dari China.

Kembali ke topik awal, bahwa peran pemerintah daerah ataupun pusat sangat vital dalam mengembangkan industri minyak goreng kelapa ini adalah karena supaya proyek VCO yang sangat besar anggarannya tersebut dapat kembali dilanjutkan. Hanya dengan menambahkan proses sedikit, masyarakat dapat merasakan dan menikmati produk minyak goreng kelapa yang murah dan terjangkau serta sesua dengan standar produk SNI.

Alat-alat produksi VCO yang bertebaran di masyarakat diangkat lagi, diberikan wawasan lagi, bahwa minyak kelapa masih akan tetap eksis dan akan lebih eksis jika mampu diolah menjadi minyak goreng kelapa yang berkualitas bagus (premium).

Penulis memiliki keyakinan, jika industri minyak goreng kelapa rakyat ini tumbuh, maka kesejahteraan yang dicita-citakan dapat akan terwujud. Namun memang ini adalah kerja besar. Sebab selama ini sumber daya alam kelapa yang melimpah ini berada di luar jawa, yang notabene bahwa budaya produksi bagi mereka belum terbentuk. Maka pelatihan dan penyebaran informasi tentang pemanfaatan kelapa sebagai bahan baku minyak goreng rakyat harus terus dilakukan. Saya yakin, jika secara konsisten usaha ini dilakukan, pasti akan menuai hasil. Tentu, teknologi yang sederhana namun mampu menghasilkan produk yang standar tetap harus dilakukan.

Dalam hal ini, penulis siap berkontribusi dan bekerjasama dengan berbagai pihak, baik secara pribadi maupun lembaga pemerintah ataupun swasta untuk bersama-sama mengembangkan industri minyak kelapa rakyat menjadi minyak goreng yang dapat dirasakan oleh semua pihak. Sasaran yang paling jelas adalah bahwa kami ingin melihat petani kembali tersenyum dengan hasil bumi yang mereka peroleh. Semoga 🙂

By : Manshur Mashuri, ST

Memilih Kopra VS Minyak Goreng Kelapa Premium…?

Di beberapa sentra kelapa, para petani seolah tidak memiliki pilihan lain mengolah daging kelapa hanya menjadi kopra. Kopra adalah daging kelapa kering yang memiliki kadar air sekitar 15-20%. Kopra biasanya akan diproses menjadi minyak goreng kelapa. Proses kopra bisa dilakukan dengan pengeringan dibawah sinar matahari atau pengasapan. Para petani segerea menjual kopra kepada para pengepul dengan harapan segera mendapatkan uang untuk menutupi kehidupan sehari-harinya.

Namun ternyata siklus kopra dengan para petani tersebut tidak segera menambah/merubah siklus kehidupan para petani kelapa. Mereka tetap miskin. Bagaimana tidak, kopra hanya dijual dengan harga Rp -+ 2500/kg. Padahal 1 kg kopra diperoleh dari 5-6 butir kelapa setara dengan harga Rp 2.000-2.500. Jadi mereka hanya mendapat margin dari kopra per kg sekitar -+ Rp 100-200/kg.

Bisa dibayangkan, dengan irama kerja membuka kelapa, mencungkil, mengeringkan, atau mengasapkan dengan beberapa hari, mereka mendapatkan margin per kg hanya +- Rp 200…?

Adakah proses lain yang lebih menguntungkan. Saya kira, jika para petani diberikan sentuhan teknologi sedikit bagaimana mengolah kelapa tidak hanya menjadi kopra, tetapi dari daging kelapa dapat diolah menjadi minyak kelapa mentah CCO (Crude Coconut Oil) atau VCO (virgin coconut oil), yang harganya pasti lebih bagus, bisa dijual dengan harga bisa Rp 9-10ribu. Asumsi 1 liter kelapa diperoleh dari 10 kelapa. Harga 1 butir kelapa Rp 500. (catatan dibeberapa daerah harga kelapa banyak dijual dengan harga 250-350 rupiah) menguntungkan bukan…?

Akan jauh menguntungkan lagi, jika CCO/VCO kemudian di0lah menjadi minyak goreng kelapa premium. minyak goreng setara barco yang sudah ada dipasaran.  Apa bisa…? Jawabannya pasti bisa. Hanya dengan memberikan sedikit sentuhan netralisasi pada minyak kelapa kemudian disaring, hasil yang akan diperoleh adalah minyak goreng kelapa sesuai standar Nasional Indonesia. Kebetulan saya pernah melakukannya dengan membuat minyak goreng kelapa sesuai standar SNI dan HACCP :). Proses tersebut masih dilakukan di Kawasan Industri Minyak Kelapa Kulonprogo Yogyakarta.

Tidak sulit untuk memulai, asal ada kemauan. Peran pemerintah daerah sangat diharapkan untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan produk kelapa menjadi unggulan di daerahnya sendiri. Kelemahan minyak goreng kelapa yang diolah saat ini adalah tidak tahan lama, hanya mampu bertahan sekitar 1-2 mingguan. Lewat dari masa itu sudah tengik, Maka sering terdengar istilah minyak Goreng Kampung. Penamaan yang tidak menjual. Masyarakat kelas tertentu pun ogah menggunakan minyak goreng kelapa tersebut. Karena memang kesan yang dibuat adalah Kampung, Jelek, tidak bermutu (ini adalah pembunuhan karakter yang terkesan halus).

Nah, kelompok-kelompok tani yang mengolah daging kelapa menjadi kopra, sudah saatnya diarahkan mengolah daging kelapa menjadi minyak goreng kelapa premium yang harganya bisa bersaing dengan minyak goreng sawit. Hingga harapannya tumbuh sentra ekonomi rakyat yang lebih bergairah.

By : Manshur Mashuri